APLIKASI TEORI KONTRUKTIVISTIK JEAN PIAGET TERHADAP PEMBELAJARAN BIOLOGI

APLIKASI TEORI KONTRUKTIVISTIK JEAN PIAGET

TERHADAP PEMBELAJARAN BIOLOGI

Oleh: Ayu Puji Rahayu

BAB I

PENDAHULUAN

Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret.

Belajar menurut teori kontruktivistik bukanlah sekedar menghapal akan tetapi, proses mengkontruksi pengetahuan melalui pengalaman. Kontuktivisme memandang belajar lebih dari sekedar menerima dan memproses informasi yang disampaikan guru atau teks, tetapi lebih dari itu pembelajaran adalah kontruksi pengetahuan yang bersifat aktif dan personal (de Kock, Sleegers, dan Voeten, 2004).

Perkembangan kognitif merupakan salah satu asfek mental yang bertujuan: 1) memisahkan kenyataan yang sebenarnya dengan fantasi, 2) menjelajah kenyataan dengan menemukan hukum-hukumnya, 3) memilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan, 4) menentukan kenyataan yang sesungguhnya di balik sesuatu yang nampak.

Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Pengetahuan diperoleh menurut proses kontruksi selama hidup melalui  suatu proses ekuilibrasi antara skema pengetahuan dan pengalaman baru. Dalam penelitian-penelitian piaget meliputi kontruksi pengetahuan personal melalui interaksi individual dengan lingkungan.

Dalam kontruksi pengetahuan, guru juga harus aktif.  Aktif menemukan cara-cara untuk memahami konsepsi siswa, menemukan konsepsi alternatif dan mengembangkan tugas-tugas kelas yang mengarah pada kontruksi pengetahuan. Seorang guru juga perlu memperhatikan kemampuan individual dan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut supaya lebih matang.

Hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

 

1. Konsep-Konsep Utama Teori

1.1  Skemata

Seorang anak dilahirkan dengan sedikit refleks yang terorganisir, seperti menyedot, melihat, menggapai, dan memegang. Potensi untuk bertindak dengan cara tertentu itu disebut sebagai skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya melihat kedua binatang tersebut, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat sedangkan kelinci berkaki dua. Pada akhitnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki empat dan berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnlah skema yang dimlikinya.

Skema adalah istilah yang sangat penting dalam teori peaget. Suatu skema dapat dianggap sebagai elemen dalam struktur kognitif organisme. Skemata yang ada dalam organisme akan menentukan bagaimana ia akan merespons lingkungan fisik. Jelas, cara anak menghadapi lingkungannya akan berubah-ubah seiring dengan pertumbuhan si anak. Agar terjadi interaksi organisme-lingkugan, skemata yang tersedia untuk anak harus berubah atau menjadi lebih rinci. Skemata seorang anak berkembang menjadi skemata orang dewasa. Gambaran dalam pikiran anak menjadi semakin berkembang dan lengkap.

1.2  Asimilasi dan Akomodasi

Proses merespons lingkuangan sesuai dengan struktur kognitif seseorang dinamakan asimilasi, yaitu jenis pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkuan fisik. Struktur kogntif yang eksis pada momen tertentu akan dapat diasimilasikan oleh organisme. Misalnya, jika skema mengisap, menatap dan memegang sudah tersedia bagi si anak, maka segala sesuatu yang dialami anak akan diasimilasikan ke schemata itu. Saat struktur kognitif berubah, maka anak mungkin bisa mengasimilasikan aspek-aspek yang berbeda dari lingkungan fisik.

Proses penting kedua adalah akomodasi. Akomodasi adalah proses mengubah skema yang sudah ada hingga terbentuk skema baru. Baik asimilasi maupun akomodasi terbentuk berkat pengalaman anak. Setiap pengalaman yang dialami anak akan melibatkan asimilasi dan akomodasi

Dapat terjadi bahwa dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, organisme tidak dapat mengasimilasikan pengalaman  yang baru itu dengan skema yang telah ia punyai. Pengalaman baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan seprti ini organisme akan mengadakan akomodasi, yaitu:1) membentuk skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru atau 2) memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Misalnya, seorang anak mempunyai skema bahwa semua binatang harus berkaki empat atau dua. Skema ini didapat dari abstraksinya terhadap binatang-binatang yang pernah dijumpainya. Pada suatu hari ia berjalan ke sawah dan menemukan banyak binatang  yang kakinya lebih dari empat. Anak tadi mengalami bahwa skema lamanya tidak cocok lagi; terjadi konflik dalam pikirannya. Ia harus mengadakan perubahan terhadap skema lamanya. Ia mengadakan akomodasi dengan membentuk skema baru bahwa binatang dapat berkaki dua, empat, dan lebih dari empat. Karena skema ini suatu kontruksi, maka bukan tiruan dari kenyataan dunia yang ada. Menurut Piaget,  proses asimilasi dan akomodasi ini terus berjalan dalam diri seseeorang. Dalam contoh di atas, ia akan terus mengembangkan skemanya tentang kaki binatang bila dijumpainya pengalaman-pengalaman yang berbeda, misalnya bahwa ada pula binatang yang tak berkaki.

1.3  Equilibration

Ekuilibrasi secara sederhana didefinisikan sebagai dorongan terus-menerus kearah keseimbangan atau ekuilibrium. Proses asimilasi dan akomodasi diperlukan untuk proses perkembangan kognitif seseorang. Dalam perkembangan intelek seseorang, diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Proses ini disebut ekuilibrium, yakni pengaturan diri sendiri  secara mekanis untuk mengatur proses keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrasi membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman baru dengan struktur skemata. Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan dengan jalan asimilasi dan akomodasi.

Proses mekanisme asimilasi dan akoodasi dan kekuatan penggerak ekuilibrasi, akan menghasilkan pertubuhan intelektual yang pelan tetapi pasti. Proses ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Lingkungan fisik

Struktur kognitif

Persepsi

     Asimilas               Akomodasi

2. Tahap-Tahap Perkembangan

2.1  Sensori motor  (0-1,5 tahun)

Aktivitas kognitif berpusat pada asfek alat indera (sensori) dan gerak (motor). Artinya dalam tahap ini anak hanya mampu melakukan pengenalan lingkungan melalui alat inderanya dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitif selanjutnya. Aktivitas sensori-motor terbentuk melalui proses penyesuain struktur fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkuangan.

2.2  Pre-operational (1,5 – 6 tahun)

Anak telah menunjukan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal di luar dirinya. Aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang terorganisasikan. Anak sudah dapat memahami relitas di lingkungan dengan menggunakan tanda-tanda dan simbol.

2.3 Concrete operational (6-12 tahun)

Anak telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal konkrit secara logis. Perkembangan pemikiran pada tingkat ini memberikan kecakapan anak untuk melihat secara logis persamaan-persamaan suatu kelompok objek dan  memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama.

2.4  Formal operational (12 tahu ke atas)

Perkembangan kognitif ditandai dengan kemampuan individu untuk berfikir secara hipotesis dan berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak, dan mempertimbangkan kemungkinan cakupan yang luas dari perkara yang sempit. Perkembangan kognitif pada tahap ini merupakan ciri perkembangan remaja dan dewasa menuju ke arah proses berfikir dalam peringkat yang lebih tinggi. Peringkat berfikir ini sangat diperlukan dalam pemecahan masalah.

BAB III

ANALISIS DAN HASIL KAJIAN DI LAPANGAN

 

1. Aplikasi dan Implikasi Teori Kontruktivisme Dalam Pembelajaran

1.1  Aplikasi dalam pembelajaran Biologi

            Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik misalnya dengan menggunakan model kontekstual, pembelajaran akan lebih bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemberitahuan orang lain, tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan yang demikian akan mudah dilupakan dan tidak fungsional. Agar belajar optimal terjadi, informasi harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam struktur kognitif tetapi pada saat yang sama ia harus berbeda agar menimbulkan perubahan dalam struktur kognitif tersebut.

Contoh penggunaan CTL di kelas:

Di kelas Madrasah Aliah (MA) dalam pembelajaran Biologi kelas X semester 2, setelah guru mengakhiri sebuah pembelajaran, guru memberitahu materi yang akan dibahas selanjutnya yaitu klasifikasi tentang macam-macam pencemaran lingkungan beserta faktor penyebabnya. Guru mendorong siswa untuk membaca dan berfikir kritis dengan meminta mereka untuk fokus pada persoalan-persoalan kontroversi tentang masalah-masalah pencemaran lingkungan yang sedang terjadi. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok memilih sebuah persoalan kontroversial dan menelitinya. Mereka melakukan penelitian di perpustakaan, melakukan survey lapangan, mewawancarai pihak-pihak yang berkompeten mengenai persoalan yang diteliti. Selanjutnya mereka menyajikan penemuan-penemuan dalam bentuk presentasi disertai foto, gambar, diagram atau grafik. Mereka menyampaikan penemuan-penemuan tersebut di depan khalayak yang terdiri dari guru dan teman sekelas.

Dari contoh pembelajaran di atas metode pembelajaran yang digunakan guru tidak lagi hanya menggunakan metode ceramah, diskusi atau demontrasi saja. CTL memberikan makna lebih terhadap pembelajaran dan hasil optimal yang diharapkan setelah seorang siswa menyelesaikan sebuah kompetensi dasar. Dengan model CTL ini guru membantu siswa untuk mengkontruk pengetahuannya melaluai proses asimilasi dan akomodasi sehingga pengetahuan mereka tentang sebuah materi lebih sempurna.

1.2  Implikasi dalam Pembelajaran

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pengajaran, antara lain:

  1. Bahasa dan cara beerfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu dalam mengajar, guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai  dengan cara berfikir anak.
  2. Anak-anak dapat belajar lebih baik jika dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus bisa membantu agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berdiskusi.

2. Kelebihan dan Kekurangan Teori

Teori kontruktivisme memberikan peluang untuk siswa mengembangkan kemampuan intelektualnya secara optimal melalui pengalaman. Ini memberikan konsep belajar lebih bermakna karena anak didorong untuk menemukan pemahaman sendiri misalnya melalui model pembelajaran konstektual. Piaget mengasumsikan bahwa belajar terjadi secara kontinu melalui konsep asimilasi dan akomodasi. Ini memberi peluang agar seseorang bisa meningkatkan tahap berfikirnya secara optimal.

Secara rinci kelebihan-kelebihan teori kontruktivisme adalah:

  • Dalam Aspek Berfikir  yakni pada proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menggali ide dan membuat keputusan.
  • Dalam aspek kefahaman seorang  murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan mampu mengapliksikannya dalam semua situasi.
  • Dalam aspek mengingat yakni murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan mengingat lebih lama konsep. melalui pendekatan ini murid dapat meningkatkan kefahaman mereka.
  • Dalam aspek Kemahiran sosial yakni Kemahiran sosial diperoleh apabila seorang murid berinteraksi dengan teman, kelompok kerja maupun dengan guru dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan maupun wawasan baru.

Namun, asimilasi adalah jenis belajar yang statis, dibatasi oleh struktur kognitif yang ada. Menurut Matthews (1994), kontruktivisme Piaget ini terlalu personal dan individual. Piaget terlalu menekankan  bagaimana seseorang membangun pengetahuannya. O’Loughlin (1992) juga mengkritik Piaget terlalu subjektif dan kurang sosial, padahal dalam kenyataan seseorang tidak dapat lepas dari orang lain.

Secara rinci kelemahan-kelemahan teori kontruktivisme adalah:

  • Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
  • Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
  • Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.
  • meskipun guru hanya menjadi pemotivasi dan memediasi jalannya proses belajar, tetapi guru disamping memiliki kompetensi dibidang itu harus memiliki perilaku yang elegan dan arif sebagai spirit bagi anak sehingga dibutuhkan pengajaran yang sesungguhnya mengapresiasi nilai-nilai kemanusiaan.

BAB IV

PENUTUP

 

  1. 1.      Kesimpulan

Menurut Piaget, anak dilahirkan dengan beberapa skemata sensorimotor, yang memberi kerangka bagi interaksi awal mereka dengan lingkungannya. Pengalaman awal anak akan ditentukan oleh skemata sensorimotor ini. Dengan kata lain, hanya kejadian yang dapat diasimilasikan ke skemata itulah yang dapat direspons oleh anak. Tetapi melalui pengalaman, skemata awal ini dimodifikasi. Melalui interaksi dengan lingkungannya, struktur kognitif akan berubah, dan memungkinkan perkembangan pengalamn terus menerus. Dengan cara ini, pertumbuhan intelektual yang dimulai dengan respons reflektif anak terhadap lingkungan akan terus berkembang sampai ke titik dimana anak mampu memikirkan kejadian potensial disekelilingnya.

  1. 2.      Saran

Dalam dunia pendidikan teori kontruktivisme ini membantu guru untuk memilih materi belajar apa yang dibutuhkan oleh siswa dengan mengetahui level fungsi struktur kognitif siswa. Jadi guru tidak lagi memaksakan materi berdasarkan apa yang ingin disampaikan tetapi lebih kepada apa yang siswa butuhkan, agar siswa dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya secara sempurna. Guru pun dituntut agar lebih banyak mengajak siswanya melaksanakan penelitian dilapangan untuk mengkontruk pengetahuan mereka lebih luas dan mendalam sehingga bisa melahirkan siswa-siswa yang mampu berpikir kritis dalam pemecahan masalah-masalah, baik dalam pembelajaran maupun dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Supaya lebih optimal lagi sebaiknya teori ini dikombinasikan dengan teori teori belajar yang lain agar dalam penerapanya mampu lebih baik  dan melengkapi teori teori tersebut, karena pada dasarnya tidak ada satu teori yang sempurna karena memiliki kelebihan serta kekurangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, Ratna Wilis. (2006). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Djuheri, Otong Setiawan. (2008). Panduan Membuat Karya Tulis. Bandung: Yrama Widya.

Hergenhahn, B.R. (2010). Theories of Learning. Jakarta: Kencana.

Sanjaya, Wina. (2010). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Suparno, Paul. (1997). Filsafat Kontruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Filsafat.

Surya, Moh. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy

Wollfolk, Anita. (2008). Educational Psychology. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iklan

2 pemikiran pada “APLIKASI TEORI KONTRUKTIVISTIK JEAN PIAGET TERHADAP PEMBELAJARAN BIOLOGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s