resume definisi, fungsi, dan prinsip evaluasi

Rabu, 24 Juni 2013; 21:20

Evaluasi, Tujuan, Fungsi, dan Prinsif Evaluasi

Resume: Ngalim Purwanto, MP. dalam bukunya “Prinsif-Prinsif Dan Teknik Evaluasi Pengajaran”

Pengertian Evaluasi dalam Pengajaran:

Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencankan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens &Lehmann, 178:5). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi  atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemuadian dicoba membuat suatu keputusan.

Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi  sbb: evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.

Wringhstone dan kawan-kawan (1956:16): evaluasi pendidikan ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yag telah ditetapkan di dalam kurikulum.

Fungsi Evaluasi Dalam Proses Belajar-Mengajar

Ada empat fungsi, yaitu:

  1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi rapot atau STTB, lulus tidaknya seorag siswa (fungsi sumatif)
  2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagi suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain diantaranya: tujua belajar, materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar-mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi.
  3. Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK). Hasil- hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya, antara lain:

–           Untuk membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kekuatan atau kemampuan siswa

–          Untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau sekelompok siswa memerlukan pelayanan remedial.

–          Sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu di antar siswa.

–          Sebagai acuan dalam melayani kebutuhan-kebutuhan siswa dalam rangka bimbingan karir.

  1. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

Prinsip-Prinsip Dasar Tes Hasil Belajar

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan atau keterampilan siswa yang diharapkan setelah siswa menyelesaikan suatu unit pengajarantertentu:

  1. Mengukur dengan jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.
  2. Mengukur sampel yang refresentatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.
  3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai denga tujuan.
  4. didesain sesuai dengan kegunaan untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
  5. Dibuat seandal (reliabel) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik.
  6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.

Prinsip- Prinsip Penilaian

 

Adapun beberapa prinsip penilaian itu ialah sbb:

  1. Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif ( didasarkan atas sampel prestasi yang cukup banyak, baik macamnya maupun jenisnya).
  2. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) atau penilaian (grading). Penskoran berarti proses pengukuran prestasi menjadi angka-angka, sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa dan mahasiswa yeng memperoleh angka-angka tersebut di dalam skala tertentu, misalnya tentang baik-buruk, lus-tidak.
  3. Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced. Norms-referenced evaluasion  adalah penilaian yang diorientasikan kepada suatu kelompok tertentu, jadi hasil evaluasi perseorangan siswa dibandingkan dengan prestasi kelompoknya. Criterion-referenced evaluasion ialah penilaian yag diorientasikan kepada suatu standar absolut, tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu.
  4. Kgiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar. Ini berati bahwa tuuan penilaian, di samping untuk mengetahui status siswa dan menaksir kemampuan belajar serta penguasaannya terhadap bahan pelajaran, juga digunakan sebagi feed-back (umpan balik), baik kepada siswa maupun kepada pengajar.
  5. Penilaian harus bersifat komparabel. Artinya setelah tahap pengukuran yang menghasilakan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula. 
  6. Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri (memahami macam skala yang dipergunakan).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s