Mobile Learning Untuk Pembelajaran

 

Image

Pembelajaran adalah satu upaya dalam menciptakan situasi untuk terjadinya peristiwa belajar (learning). Belajar sendiri merupakan satu proses untuk terjadinya perubahan perilaku (behaviour change) sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan. Optimalisasi hasil belajar tidak akan terjadi jika tidak ditunjang dengan sumber belajar (learning resources). Sumber belajar berfungsi untuk memberikan berbagai pengalaman-pengalaman belajar pada diri siswa. Melalui pengalaman belajar yang bervariasi tersebut belajar akan lebih bermakna, sehingga hasil belajar dapat bertahan lama (retensi) pada long term memory siswa secara permanen.

Sumber belajar yang dimaksud di atas, memiliki ruang lingkup yang cukup luas, karena berarti semua daya yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Salah satu sumber belajar yang cukup penting adalah tools atau alat-alat sebagai produk dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sekarang ini, terdapat perangkat teknologi yang sangat praktis namun memiliki fungsi yang sangat membantu aktivitas manusia, termasuk untuk kegiatan belajar yaitu mobile communication. Mobile communication merupakan perangkat TIK menggunakan teknologi komputer yang dilengkapi dengan connection dengan kabel maupun nirkabel (wireless), juga mobile telpon yang dilengkapi dengan perangkat multimedia. Seseorang dapat berkomunikasi langsung baik dengan suara saja maupun dapat saling berhadapan langsung melalui teknologi 3G, dapat berkirim pesan pendek (short message service) , pengiriman data multimedia (multimedia message service). Selain itu melalui perangkat TIK kita dapat mengambil data, mengolah, menyimpan, menampilkan dan mengirimkan data tersebut dengan mudah (user friendly). Secara umum perangkat tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi. Namun demikian, dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam kegiatan pembelajaran, sebab pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi yang transaksional antara siswa dengan lingkungan belajar.

Pemanfaatan teknologi informasi khususnya mobile communication sudah banyak dimanfaatkan untuk pembelajaran. Di China penggunaan mobile communication terutama mobile phone sudah melebihi 501 juta pengguna ( Sumber: Digitimes). Saat ini jumlah pengguna telepon selular sudah mencapai 3 milyar dan ini menunjukan setengah dari seluruh populasi dunia sudah menggunakan telepon selular ( Sumber: Reuters). 25% mobile telepon tersebut dengan harga dibawah 20 Dollar hal ini berarti cukup murah dan terjangkau oleh masyarakat. 51% pengguna mobile telepon tertarik pada fitur mobilTV, yaitu lebih dari 1 milyar. Akses internet via mobile telepon sebanyak 21% (Sumber: Http://Www.Judybrown.Com/) .

Sedangkan di Indonesia terdapat 63 jutaan para pemakai telepon genggam dari seluruh jumlah penduduk Indonesia ( Suhartono, 2006). Menurut Barendregt (2006) telpon genggam merupakan suatu lambang pembaharuan di Indonesia.

 Image Begitu banyaknya pengguna mobile communication di dunia serta teknologi pendukungnya, maka di negara maju seperti halnya Amerika, Cina dan Jepang, penggunaan mobile communication menjadi bagian penting dari kehidupannya. Seperti yang terlihat pada gambar di atas, digambarkan bahwa dalam berbagai situasi seperti di kendaraan, di ruangan, di jalan, di tempat belanja, di tempat umum termasuk di bandara, perangkat mobile communication selalu ada dan siap digunakan. Kondisi seperti inilah yang kemudian memunculkan konsep tentang pembelajaran yang mobile (mobile learning / m-learning). Dengan memanfaatkan mobile communication  siswa dapat belajar tanpa batas, tidak dibatasi rung, waktu, situasi dan kondisi (any time, any where).

Di dalam pembelajaran Teknologi juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh siswa sebagai bekal kehidupannya (as a literacy). Dalam hal ini memunculkan mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi yang harus dikuasai oleh siswa mulai jenjang Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Teknologi yang digunakan dalam sistem pembelajaran memunculkan beberapa konsep belajar modern seperti pembelajaran berbasis elektronik atau sering disebut dengan e-learning, yang telah mengubah sistem pembelajaran tradisional menjadi pola bermedia. Siswa dapat memilih materi berdasarkan minatnya sendiri, belajar menyenangkan, penuh motivasi dan latihan-latihan. Gambar di bawah ini menjelaskan bagaimana interaksi pembelajaran melalui pemanfaatan sistem e-learning, bagaimana posisi siswa dan umber belajar.

 Image

 Pada pola ini tampak bahwa siswa dapat belajar dari berbagai aneka sumber baik dari bahan tercetak (printed matterial), manusia yang lain seperti guru dan siswa yang lainnya, dengan menthor, dengan praktisi di lapangan, ahli, belajar melalui web, komunikasi langsung melalui chatting, juga melalui forum diskusi dengan pihak dengan latar belakang yang berbeda. Fitrah manusia adalah memiliki perbedaan, maka perbedaan itu haruslah menjadi bagian dari sumber pengetahuan yang mampu memperkaya pengetahuan manusia yang lainnya. Manusia sebagai mahluk sosial, memiliki ketergantungan dengan manusia yang lainnya, semakin banyak bantuan dari pihak lain maka akan semakin membantu mengembangkan potensi diriya ke arah keberagaman hasil belajar dan kemandirian. Inilah konsep-konsep yang mendasari pentingnya pembelajaran e-learning, yaitu mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai individu yang utuh yang memiliki minat, potensi, kemampuan dan membutuhkan kolaborasi dengan yang lain untuk memperkaya pengalaman belajarnya.

 

 Sumber: Wina Sanjaya (2010), Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s