Pentingnya Iklim Ruang Kelas

Iklim atau suasana kelas adalah keseluruhan atmosfer psikologis kelas. Iklim atau suasana kelas yang baik harus tercermin dari siswa merasa aman dan nyaman belajar. Jika mereka merasa tidak nyaman atau terancam, mereka tidaka akan demikian bersemangat untuk mendengar karya mereka ditunjukan, apalagi dinilai secara terbuka oleh teman sekelas mereka.

Iklim ruang kelas merujuk pada fisik ruangan, hingga tingkatan di mana ruangan itu aman dan tertib dan atmosfir emosionalnya. Iklim ruang kelas positif sangat penting bagi pembelajaran. Tidak ada strategi mengajar atau model mengajar yang efektif jika iklim ruang kelasnya negatif, dan manajemen ruang kelas kemungkinan besar terjadi dalam iklim negatif (Weinstein dalamEggen dan Kauchak,2012).

Saat iklim ruang positif, lingkungan fisik pun menyenangkan dan mengundang. Gambar-gambar dan slogan-slogan menarik seperti “Kuncinya adalah Diriku”, “ Saat Aku Memasuki Pintu Ini, Aku Siap Untuk Belajar”, Berpijak Pada Keunggulan”, Disiplin Adalah Jembatan Antara Tujuan Dan Pencapaian” di dinding, dan contoh karya-karya siswa bisa ditampilkan di papan buletin. Tempat duduk secara berkala diubah supaya siswa tidak berada di belakang ruang kelas atau jauh dari guru untuk waktu yang lama. Pencahayaan ruangan harus baik. Juga, ruangan harus bersih dari sampah, seperti kertas siswa yang sudah dibuang, pembungkus makanan, dan bahan-bahan lain.

Saat iklim ruang positif, fokus pada pembelajaran, lingkungan menjadi tertib, dan semua siswa merasa seakan-akan mereka diinginkan dan diterima. “Ini menuntut sekolah dan iklim ruang kelas di mana siswa dimungkinkan untuk rapuh secara emosional dan di mana kerapuhan mereka berkembang menjadi kesediaan untuk menceburkan diri pada resiko melakukan tindakan kebikan dan kepeduliaan kepada orang lain” (Nucci,2006, hal 716). Selain itu, siswa merasa terhubung secara emosional dengan guru merekadan siswa-siswa lain. Juga, mereka merasa layak mendapatkan cinta dan respek, yaitu kedua kebutuhan dasar menurut sejumlah peneliti (Ryan&Deci,2000).

Bagaimana menciptakan iklim ruang kelas positif?

Kita dapat melakukan banyak hal untuk berkontribusi pada iklim ruang kelas positif dengan perilaku yang kita tampilkan dan keyakinan kita tentang mengajar dan belajar. Ada empat hal yang penting, yaitu:

  • Modelling atau mencontohkan
  • Memedulikan
  • Ekspekatasi positif
  • Efektifitas pengajaran personal

Modelling

         Modelling atau mencontohkan merujuk pada kecenderungan orang untuk meniru perilaku yang mereka amati dalam diri orang lain. Modelling oleh guru adalah salah satu kekuatan yang paling bertenaga yang ada di ruang kelas dan berperan penting dalam menciptakan iklim ruang kelas positif. Anda menentukan nuansa ruang kelas Anda dalam cara Anda berperilaku dan berinteraksi dengan siswa-siswa Anda. Jika Anda memperlakukan siswa dengan santun dan rasa hormat, mengharapkan hal yang sama sebagai balasan dan menentukan standar bagi cara siswa memperlakukan satu sama lain, Anda kemungkinan besar akan mendapatkan siswa berperilaku lebih hormat dibnadingkan guru yang menciptakan nuansa berbeda. Usahakan untuk secara konsisten mengomunikasikan bahwa semua komentar akan diterima dan dihargai. Juga, komentar yang merendahkan atau mencela satu sama lain tidak akan diterima. Cobalah untuk mudah tersenyum dan bahkan mungkin “bercanda” riang dengan siswa. Jika anda menunjukan minat tulus, baik dalam topik yang Anda ajarkan dan kepada siswa sebagai manusia, kemungkinan besar Anda akan dibalas dengan kebaikan berlipat ganda. ini akan membawa kita pada ide memedulikan.

Memedulikan

  • Guru kelas satu menyapa muridnya setiap pagi dengan pelukan atau “tos”.
  • Guru kelas 5 segera memanggil orang tua jika salah satu murid gagal, menyerahkan tugas rumah atau tidak hadir di kelas dua hari berturut-turut.
  • Guru aljabar menghapal nama setiap murid dalam semua lima kelanya menjelang akhir minggu pertama sekolah dan dia tetap di kelasnya selama jam makan siang untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan.

      Setiap guru di atas menunjukan sikap memedulikan, yang merujuk pada empati guru dan usahanya dalam melindungi dan memangun anak-anak kecil (Noddings, 2001; Perry, Tunner, & Meyer, 2006). Guru yang peduli membantu siswa merasa seolah-olah mereka diterima dan menjadi anggota ruang kelas, yang begitu penting bagi iklim positif.

      Penelitian mendukung pentingnya memedulikan. “siswa yang memiliki persepsi bahwa guru peduli terhadap mereka melaporkan hasil motivasi yang positif seperti tanggung jawab yang lebih pro-sosial dan sosial, upaya akademis, dan kenyakinan akan pengendalian diri yang lebih besar. Tampaknya siswa ingin guru peduli terhadap mereka sebagai murid dan manusia” (Perry et el.,2006). Penelitian tambahan menunjukan bahwa siswa lebih terlibat dalam kegiatan ruang kelas saat mereka merasa guru mereka menyukai mereka dan responsif terhadap kebutuhan mereka (Osterman,2000).

Mengomukasikan kepeduliaan

Anda dapat mengomunikasikan kepeduliaan dengan cara-cara lain. Termasuk (Alder, 2002; Osterman, 2000):

  • Menghafalkan nama siswa dengan cepat dan memanggil siswa dengan nama pertama mereka.
  • Sebisa mungkin memanggil siswa setiap hari dan berusaha mengenal mereka secara individu.
  • Melakukan kontak mata, tersenyum, mencondongkan badan kepada mereka saat berbicara dan menunjukan bahasa tubuh yang santai.
  • Menggunakan “kita” dalam merujuk kegitan dan tugas kelas.
  • Menunjukan rasa hormat kepada siswa sebagai individu.

Hal terakhir, yaitu menunjukan rasa hormat, perlu diberikan penekanan khusus. Anda dapat menunjukan rasa hormat dalam berbagai cara, tapi mempertahankan standar adalah yang terpenting:

      Salah satu cara terbaik untuk menunjukan rasa hormat kepada siswa adalah menjaga mereka pada standar tinggi-dengan tidak menerima karya yang ceroboh, asal-asalan, atau tidak lengkap, dengan mendorong mereka untuk tidak menyerah, dan dengan tidak memuji karya yang tidak mencerminkan upaya tulus. Ironisnya, reaksi yang sering diniatkan untuk melindungi rasa percaya diri siswa-seperti menerima karya berkualitas rendah-justru mencerminkan kurangnya minat, kesabaran, atau kepedulian. (Stipek,2002, hal.157)

        Pandangan ini diperkuat oleh penelitian. Saat siswa SMP ditanya, “Bagaimana kalian tahu seorang guru memedulikan kalian?” mereka menjawab bahwa menaruh perhatian kepada mereka sebagai manusia adalah penting, tapi yang lebih mengejutkan adalah keyakinan mereka bahwa guru yang berkomitmen pada pembelajaran mereka dan menerapkan standar tinggi kepada mereka (Wilson & Corbett,2011).

Ekspektasi Positif

Mari kita lihat bagaimana ekspetasi dari motivasi terhubung, pertimbangkan pernyataan berikut:

“ini adalah ide baru dan akan menantang, tapi jika kalian bekerja keras, ibu tahu kalian bisa melakukannya. Mulailah sesegera mungkin saat ide-ide itu masih segar dalam pikiran kalian. Ibu akan ada di sini, jadi jika kalian punya pertanyaan, angkatlah tangan kalian.”

______________

“materi ini sulit, tapi kita harus mempelajarinya. Beberapa dari kalian mungkin punya kesulitan dengan ini, dan ibu akan ada di sini sesegera mungkin untuk membantu kalian. Jangan ribut sampai ibu datang lagi ke sini.”

      Guru pertama mengakui tugas itu sulit, tapi mengomunikasikan bahwa dia mengaharapkan siswanya berhasil. Ketika mengatakan, “Beberapa di antara kalian mungkin akan mengalami kesulitan dengan ini“, guru kedua menyarankan sebaliknya. Komentar-komentar yang tampak ringan seperti ini bisa secara kuat memengaruhi ruang kelas karena efek komentar-komentar ini pada motivasi dan prestasi kolektif siswa.

        Ekpektasi juga memengaruhi interaksi guru dengan siswa secara individual. Secara spesifik, guru yang berperilaku sesuai dengan pola-pola yang diidentifikasi oleh penelitian cenderung memperlakukan siswa yang mereka anggap sebagai siswa termotivasi prestasi tinggi secara berbeda dengan siswa-siswa yang mereka anggap sebagai siswa yang termotivasi prestasi rendah (Weistein, 2002).

Efektivitas Pengajaran Pribadi

“apa yang sedang kau lakukan?”Jim Barton bertanya kepada istrinya, Shirley, seorang guru kelas empat, saat dia melihat sang istri sedang giat bekerja pada sabtu sore menggunting dan menggambar di potongan-potongan karton.

“Mengerjkan satu unit pelajaran tentang pecahan sepadan dan menambahkan pecahan dengan penyebut yang tak sama… menurutmu apa?…apakah semua ini terlihat seperti pizza dan kue?” dia bertanya balik sambil memegang potongan-potongan kertas karton.

Terkesan, Jim menjawab. “Memang demikian”.

“Anak-anakku tidak mendapatkan skor sebaik yang aku harapkan dalam bagian pecahan di tes nasional tahu lalu dan aku bersumpah bahwa mereka akan lebih baik tahun ini.”

“Tapi kau bilang anak-anak tidak sepintar dulu tahun ini.”

“Aku tidak peduli. Aku akan mendorong mereka lebih keras. Aku rasa aku seharusnya bisa melakukan pekerjaan lebih baik tahun lalu, jadi aku bersumpah akan benar-benar siap tahun ini.”

Jim menggumamkan sesuatu tentang mengira bahwa guru yang sudah mengajar selama sebelas tahun pastilah dianggap sudah kelelahan, dan dia kembali ke ruang tamu dengan senyum di wajahnya.

     Shirley adalah seorang guru yang memiliki efektivitas pengajaran pribadi yang tinggi. Efektivitas pengajaran pribadi menggambarkan kenyakinan guru pada kemampuan mereka untuk membuat siswa berhasil dan belajar tanpa peduli latar belakang atau kondisi rumah dan sekolah siswa (Woolfolk Hoy, Davis & Pape,2006). Guru yang memiliki efektivitas pengajaran yang tinggi bertanggung jawab atas kesuksesan atau kegagalan cara mereka mengajar (Lee, 2000). Shirley tidak menjadikan fakta bahwa siswanya tahun ini tidak sepintar dulu sebagai alasan untuk mengendurkan upayanya seraya menyakini bahwa dia dapat membantu murid-muridnya berhasil.

       Guru dengan efektivitas tinggi bersikap adil tapi menuntut. Mereka memaksimalkan waktu yang ada untuk mengajar, memuji siswa karena pemahaman mereka yang semakin baik, dan bertahan dengan mereka yang berprestasi rendah (Ware & Kitsantas, 2007). Guru dengan efektivitas rendah, sebaliknya, cenderung menyalahkan kurangnya kecerdasan, lingkungan rumah yang buruk, pengurus sekolah yang tidak mau bekerja sama, atau sebab-sebab eksternal lain untuk prestasi yang rendah. Mereka memiliki ekspetasi lebih rendah, meluangkan lebih sedikit waktu untuk kegiatan belajar, “menyerah” menghadapi mereka yang berprestasi rendah, dan lebih kritis saat siswa gagal (Brouwers & Tomik, 2001). Guru dengan efektivitas rendah juga lebih mengendalikan dan kurang menghargai otonomi siswa ketimbang guru dengan efektivitas tinggi (Henson dkk., 2001). Efektivitas pengajaran pribadi yang rendah berkontribusi pada emosi-emosi negatif, stress, dan kelelahan guru (Caprara, Barbarabelli & Steca, 2003).

Tak mengejutkan, saat efektivitas diri guru tinggi, iklim ruang kelas lebih positif dan siswa lebih termotivasi untuk belajar dan berprestasi lebih tinggi ( Tschannen-Moran, Wolfolk Hoy, 1998).

       Bagian ini memiliki dampak penting bagi kita mengajar. Kita harus tetap mengingat sejumlah pertanyaan seperti:

  • Apakah perilaku saya patut dicontoh oleh siswa saya?
  • Apakah saya benar-benar tulus memedulikan siswa saya, baik sebagai pembelajar maupun sebagai manusia?
  • Apakah saya sudah memiliki ekspektasi tinggi yang sesuai bagi semua siswa saya?
  • Apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu siswa saya belajar?

Jika kita dapat menjawab setiap pertanyaan di atas dengan ‘ya’ secara jujur, itu berarti kita sedang melakukan pekerjaan kita sebaik mungkin sesuai kemampuan kita.

Sumber: “Strategi dan Model Pembelajaran” Paul Eggen & Don Kauchak,2012.

 

“ Hakikatnya guru adalah pembelajar abadi, untuk menyempurnakan pelayanan kepada siswanya”

                                                                               

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s