Mengidentifikasi Jenis-Jenis Frasa

A. Pengertian Frasa
Frase adalah kontruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frasa rumah ayah muncul makna baru yang berarti ‘milik’, dalam rumah makan terdapat pengertian baru yang menyatakan ‘untuk’. Sedangkan frasa obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’.
Frasa juga berarti kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat. Simak beberapa contoh frasa di bawah ini:
• ayam hitam saya
• ayam hitam
• ayam saya
• rumah besar itu
• rumah besar putih itu
• rumah besar di atas puncak gunung itu
Dalam konstruksi frasa-frasa di atas, tidak ada predikat. Lihat perbedaannya dibandingkan dengan beberapa klausa di bawah ini:
• ayam saya hitam
• rumah itu besar
• rumah besar itu putih
• rumah putih itu besar
• rumah besar itu di atas puncak gunung
Dalam konstruksi-konstruksi klausa di atas, hitam, besar, putih, besar, dan di atas puncak gunung adalah predikat.

B.Penggolongan Frasa berdasakan Jenis/kelas kata, sbb:
1. Frasa Nominal
yaitu frasa yang inti katanya merupakan kata benda (nominal). Unsur pusat frasa benda yaitu kata benda.
Contoh:
a. Dita menerima hadiah ulang tahun.
b. Dita menerima hadiah.
Frasa hadiah ulang tahun dalam kalimat di atas kedudukannya sama dengan kata benda hadiah. Oleh karena itu, frasa hadiah ulang tahun termasuk frasa benda atau frasa nomina. Frasa nominal yang diperluas dengan kata yang, contoh:
Orang yang malas itu akhirnya kehilangan pekerjaan.
Celana dia yang kuning dibeli di Singapur.
Contoh lain, misalnya:
Bapak Menteri
Meja yang baru
rumah baru
kakak saya
dua buah sepeda
yang cantik

2. Frasa Verbal
yaitu frasa yang inti katanya merupakan kata kerja (verbal).
Contoh: Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Frasa sedang membaca adalah frasa kerja karena kedudukannya sama dengan kata kerja membaca dan unsur pusatnya kata kerja, yaitu membaca.
Contoh lain, misalnya:
akan pergi
sudah datang
sedang belajar
akan lari
berantakan lagi

3. Frasa Adjektival
yaitu frasa yang inti katanya merupakan kata sifat (adjektiva). Frasa sifat mempunyai inti berupa kata sifat. Unsur inti dalam frasa adalah unsur yang diterangkan oleh unsur lain yang merupakan unsur pewatas (yang menerangkan). Meskipun demikian, sesuai pengertian adjektiva, maka frasa adjektival tetap merupakan bagian yang menerangkan nomina (kata benda).
Perhatikan contoh berikut:
Dia agak bingung dalam memilih pakaian yang ditawarkan ayahnya.
Kelompok kata yang dicetak miring pada kalimat di atas adalah frasa adjektival. Kata bingung pada frasa di atas adalah adjektiva yang menjadi inti frasa. Dikatakan sebagai inti karena kata tersebut merupakan unsur yang diterangkan oleh pewatas agak. Namun demikian, frasa adjektival agak bingung tetap berfungsi sebagai unsur yang menerangkan nomina dia. Perhatikan pula contoh berikut ini!
Karena tidak sabar, wanita itu mencubit anaknya, yang dari tadi menangis meminta es krim.
Inti frasa adjektival tidak sabar adalah sabar (adjektiva). Kata tidak adalah unsur pewatas yang menerangkan kata sabar. Karena inti dari tidak sabar adalah adjektiva sabar yang tergolong sebagai adjektiva, maka frasa tidak sabar adalah frasa adjektival.
Contoh lain, misalnya:
sangat cantik
tidak cantik
hitam manis
agak jauh
agak sombong

4. Frasa Preposisional
yaitu frasa yang unsur pembentuknya menggunakan kata depan (preposisi), yang berfungsi sebagai penanda atau penjelas.
Contoh:
di sebuah rumah
dengan sangat tenang

Frasa di sebuah rumah terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti frasa sebuah rumah sebagai intinya. Frasa dengan sangat tenang terdiri dari kata depan dengan sebagai penanda, diikuti frasa sangat tenang sebagai intinya.
Contoh lain, misalnya:
ke Jakarta
dari desa
terhadap kemenakannya
di depan
oleh mereka
di samping

5. Frasa bilangan
yaitu frasa yang kedudukannya sama dengan kata bilangan. Pada umumnya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan.
Contoh:
Dua orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, sedangkan kata orang disebut sebagai kata penyukat. Kata penyukat adalah kata yang terletak di belakang kata bilangan dan bersama kata itu membentuk satu frase yang disebut frase bilangan, yang mungkin terletak di muka kata nominal (kata benda).
Di samping itu, terdapat juga frasa bilangan yang terdiri dari kata bilangan disertai kata tambah. Misalnya: hanya satu, cuma dua belas, sepuluh saja, dsb.
Contoh lainnya, misalnya:
satu buah
dua liter
satu butir telur
sepuluh biji kelereng
dua mil
satu hasta

6. Frasa Adverbial
yaitu frasa yang inti katanya merupakan kata keterangan (adverbia) dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan. Frasa keterangan biasanya mempunyai keleluasaan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Oleh karena itu, frasa keterangan dapat terletak di depan atau di belakang subjek atau di awal dan di akhir kalimat.
Contoh:
1) Tidak biasanya dia pulang larut malam.
2) Dia tidak biasanya pulang larut malam.
3) Dia pulang larut malam tidak biasanya.
Contoh lainnya, misalnya:
tadi pagi
kemarin siang
nanti
lusa
barusan
sabtu malam

Kesimpulan:
Frase adalah kontruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Frasa juga berarti kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s