Teori-teori pembelajaran:Perspektif Pendidikan

IKHTISAR BUKU

Learning Theories : an educational perspective (Dale H Schunk: 2012)

Definisi Pembelajaran

Pembelajaran merupakan perubahan yang bertahan lama dalam perilaku, atau dalam kapasitas berperilaku dengan cara tertentu, yang dihasilkan dari praktik atau bentuk-bentuk pengalaman lainnya.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan ada tiga kriteria pembelajaran, yaitu:

  1. Pembelajaran melibatkan perubahan
  2. Pembelajaran bertahan lama seiring dengan waktu
  3. Pembelajaran terjadi melalui pengalaman

Teori dan Filsafat Pembelajaran

Asal mula pengetahuan dan keterkaitannya dengan lingkungannya ada dua yaitu teori/aliaran rasionalisme dan teori/aliran empirisme.

Rasionalisme

Teori ini mengacu pada gagasan bahwa pengetahuan diperoleh dari akal tanpa melalui pancaindra. Tokoh dari teori ini adalah Plato (427-347SM). Plato berpendapat bahwa pikiran manusia telah terstruktur dari lahir untuk tujuan berpikir dan memberikan makna dari informasi-informasi yang datang dari pancaindra. Plato menyakini bahwa benda-benda (ex: rumah, pohon) ditampilkan pada manusia melalui pancaindra, sementara tiap-tiap individu memperoleh ide-ide dari menalar atau berpikir tentang apa yang mereka ketahui.

Sejalan dengan Plato, Rene Descartes (1596-1650) seorang filsuf dan ahli matematika Perancis. Descartes memiliki keyakinan bahwa akal (pikiran) itu ada, melalui pemikiran deduktif yang bermula dari premis-premis umum lalu mengarah pada contoh-contoh spesifik, ia membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan menyimpulkan bahwa gagasan-gagasan yang diperoleh melalui akal pasti benar. Dengan bernalar, memengaruhi tindakan mekanis tubuh, tetapi tubuh bertindak berdasarkan pikiran dengan cara membawa masuk pengalaman-pengalaman indrawi.

Perspektif rasionalis dikembangkan oleh filsuf Jerman bernama Immanuel Kant (1724-1804). Dalam tulisannya berjudul Critique of Pure Reason (1781) Kant mengatakan bahwa dunia eksternal itu tidak teratur tapi dirasakan teratur karena ada keteraturan yang diberikan oleh pikiran. Pikiran membawa masuk dunia eksternal melalui pancaindra dan mengubahnya menurut aturan-aturan yang subjektif dan telah ada sejak lahir. Pengetahuan itu empiris dalam artian bahwa informasi dibawa masuk dari dunia, lalu diinterpretasikan oleh pikiran.

Kesimpulan dari teori ini adalah doktrin yang mengajarkan bahwa pengetahuan muncul melalui pikiran. Descartes dan Kant menyakini bahwa akal bertindak berdasarkan informasi yang didapat dari dunia. Plato berpikir bahwa pengetahuan dapat bersifat absolut dan diperoleh melalui akal murni.

 Empirisme

Teori empirisme adalah kebalikan dari teori rasionalisme. Perspektif empirisme mengacu pada pemikiran bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Sudut pandang ini berasal dari Aristotle (384-322 SM). Aristotle adalah siswa dan penerus Plato. Dunia eksternal merupakan landasan bagi persepsi-persepsi indrawi manusia yang nanti pada gilirannya akan diinterpretasikan sebagai sesuatu yang tetap dengan aturan-aturannya sendiri (konsisten, tidak berubah) oleh pikiran. Aristotle berpandangan bahwa ide-ide tidak hadir sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dari dunia eksternal, karena menurut pendapatnya dunia eksternal merupakan sumber dari segala pengetahuan.

Senada dengan Aristotle, John Lock (1632-1704) dalam tulisannya yang berjudul Essay Concerning Human Understanding (1690) menyampaikan bahwa tidak ada ide yang sifatnya bawaan; seluruh pengetahuan diperoleh dari dua tipe pengalaman: persepsi atas dunia eksternal dan kesadaran diri. Pada saat lahir, pikiran merupakan sebuah tabula rasa (kertas kosong). Ide-ide diperoleh dari persepsi-persepsi indrawi dan refleksi-refleksi personal terhadap persepsi-persepsi ini. Tak ada satu hal pun yang ada dalam pikiran yang tidak berasal dari pancaindra. Tokoh-tokoh lainnya yang menganut paham empirisme diantaranya George Berkeley (1685-1753). Ia berpegangan pada pandangan bahwa ide-ide diperoleh dari pengalaman-pengalaman. David Hume (1711-1777), Ia berpendapat bahwa masing-masing individu menjalin realitas eksternal melalui ide-ide mereka dan ide-ide inilah satu-satunya realitas bagi mereka. Selain Berkeley dan Hume, pandangan empirisme diperkuat oleh John Stuart Mill (1806-1873). Mill berpendapat bahwa ide-ide sederhana menghasilkan ide-ide yang kompleks, tetapi ide-ide yang kompleks tidak mesti terdiri dari ide-ide yang lebih sederhana. Keyakinan Mill mencerminkan pandangan bahwa keseluruhan itu lebih besar dibanding jumlah dari bagian-bagiannya. Pandangan ini merupakan asumsi menyeluruh dari psikologi Gestalt. Ringkasnya, empirisme menyakini bahwa pengalaman merupakan satu-satunya bentuk pengetahuan.

Dari dua aliran teori besar ini akan menghasilkan dua teori-teori besar lainnya. Aliran rasionalis akan melahirkan teori-teori kognitif, sedangkan aliran empirisme akan melahirkan teori-teori pengkondisian. Teori-teori kognitif memberikan fokus pada asosiasi antara kognisi dan pandangan, sementara teori-teori pengkondisian menekankan asosiasi antara stimulus-stimulus bersama respons-respons dan akibat-akibat.

Catatan pertama

(Bandung, 07 Januari 2016, 03:35)

Kelompok Presentasi Kelas Weekend

Pokok Bahasan:

  1. Mengidentifikasi Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia dan Kedudukan Bahasa Indonesia
  2. Menuliskan Ragam Bahasa dan Karakteristiknya
  3. Menggunakan Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia
  4. Menulis kalimat efektif
  5. Menggunakan diksi atau pilihan kata
  6. Mengetahui Persentasi Ilmiah dan Pidato
  7. Menganalisis penalaran
  8. Menyusun kerangka karangan dan Menyusun karya ilmiah
  9. Menggunakan Kutipan, Catatan Kaki, Daftar Pustaka
  10. Mengetahui Etika Karya Ilmiah
  11. Membuat Resensi dan Ringkasan

Pembagian Kelompok Presentasi:

  1. Ernawati dan Frisca Aprilian- no. 1 & 2. Pertemuan 1, 5
  2. Ratna Nurmala dan Novia Lestika – no. 3, 4, &5. Pertemuan 2, 6,9
  3. Heru Setiawan dan Asti- no. 6, 7, dan 8. Pertemuan 3, 7,10
  4. Eka, Lani, dan Anggi- no. 9, 10, dan 11. Pertemuan 4, 8,11

Pertemuan 1 tgl 24 Okt 2015

Pertemuan 2 tgl 31 Okt 2015

Pertemuan 3 tgl 7 Nop 2015

Pertemuan 4 tgl 14 Nop 2015

Pertemuan 5 tgl 21 Nop 2015

Pertemuan 6 tgl 28 Nop 2015

5 Desember 2015 UTS

Pertemuan 7 tgl 12 Des 2015

Pertemuan 8 tgl 19 Des 2015

Pertemuan 9 tgl 2 Januari 2016

Pertemuan 10 tgl 9 Januari 2016

Pertemuan 11 tgl 16 Januari 2016

23 Januari 2016 minggu tenang menjelang UAS

30 Januari 2016 UAS

Kelompok Presentasi Kelas Regular Shif

Pokok Bahasan:

  1. Mengidentifikasi Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia dan Kedudukan Bahasa Indonesia
  2. Menuliskan Ragam Bahasa dan Karakteristiknya
  3. Menggunakan Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia
  4. Menulis kalimat efektif
  5. Menggunakan diksi atau pilihan kata
  6. Mengetahui Persentasi Ilmiah dan Pidato
  7. Menganalisis penalaran
  8. Menyusun kerangka karangan dan Menyusun karya ilmiah
  9. Menggunakan Kutipan, Catatan Kaki, Daftar Pustaka
  10. Mengetahui Etika Karya Ilmiah
  11. Membuat Resensi dan Ringkasan

Pembagian Kelompok Presentasi:

  1. Harliani Dessy Pratiwi dan Melisa Safitri- no. 11 & 10. Pertemuan 1, 5
  2. Indri Nur Alfi Qodariah dan Harliana Dessy Pratiwi no. 7, 8, dan 9. Pertemuan 2, 6,9
  3. Adan Sopianda dan Noor Arifyanto- no.. no. 1, 2, dan 3. Pertemuan 3, 7,10
  4. Riska Abdul Rohman dan Tantan- no. 4, 5, dan 6. Pertemuan 4, 8,11

Pertemuan 1 tgl 23 Okt 2015

Pertemuan 2 tgl 30 Okt 2015

Pertemuan 3 tgl 6 Nop 2015

Pertemuan 4 tgl 13 Nop 2015

Pertemuan 5 tgl 20 Nop 2015

Pertemuan 6 tgl 27 Nop 2015

4 Desember 2015 UTS

Pertemuan 7 tgl 11 Des 2015

Pertemuan 8 tgl 18 Des 2015

Pertemuan 9 tgl 1 Januari 2016

Pertemuan 10 tgl 8 Januari 2016

Pertemuan 11 tgl 15 Januari 2016

22 Januari 2016 minggu tenang menjelang UAS

29 Januari 2016 UAS

Silabus dan Kontrak Belajar

SILABUS PERKULIAHAN

 

Kode Mata Kuliah
Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Bobot SKS 2 SKS
Jurusan/Prodi -/-
Semester Ganjil
Dosen Ayu Puji Rahayu, M. Pd. / ayupujirahayu060702@yahoo.com

Blog:   ayupujirahayu.wordpress.com

Standar Kompetensi Sejarah perkembangan bahasa Indoensia, Kedudukan Bahasa Indonesia, Ragam Bahasa dan Karakteristiknya, Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia, Kalimat Efektif, Diksi (Pilihan Kata), Persentasi Ilmiah dan Pidato, Penalaran, Jenis tulisan dan Kerangka Karangan, Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi dan Artikel/Jurnal Ilmiah), Kutipan, Catatan Kaki, Daftar Pustaka, Etika Karya Ilmiah, Resensi dan Ringkasan.
Kompetensi Dasar Mengetahui Kontrak Perkuliahan, Sejarah perkembangan dan kedudukan bahasa Indoensia; Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia, Kalimat Efektif, Diksi (Pilihan Kata), Persentasi Ilmiah dan Pidato, Penalaran, Jenis tulisan dan Kerangka Karangan dalam menulis karya ilmiah (Skripsi dan Artikel/Jurnal Ilmiah).
Indikator 1.     Memiliki kemampuan memahami kedudukan dan ragam bahasa Indonesia.

2.     Memiliki keterampilan dalam menulis dan berbicara menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

3.     Memiliki pemahaman tentang cara menulis karya ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Deskripsi Mata Kuliah Mata kuliah bahasa Indonesia ini mengajarkan kepada mahasiswa tentang sejarah perkembangan bahasa Indoensia, Kedudukan Bahasa Indonesia, Ragam Bahasa dan Karakteristiknya, Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia, Kalimat Efektif, Diksi (Pilihan Kata), Persentasi Ilmiah dan Pidato, Penalaran, Jenis tulisan dan Kerangka Karangan, Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi dan Artikel/Jurnal Ilmiah), Kutipan, Catatan Kaki, Daftar Pustaka, Etika Karya Ilmiah, Resensi dan Ringkasan.
Materi Pokok Perkuliahan 1.    Pengantar; Orientasi Umum Perkuliahan dan Kontrak Studi

2.    Mengidentifikasi Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia dan Kedudukan Bahasa Indonesia

3.    Menuliskan Ragam Bahasa dan Karakteristiknya

4.    Menggunakan Ejaan dan Tanda Baca Bahasa Indonesia

5.    Menulis kalimat efektif

6.    Menggunakan diksi atau pilihan kata

7.    Mengetahui Persentasi Ilmiah dan Pidato

8.     UTS

9.     Menganalisis penalaran

10.  Menyusun kerangka karangan dan Menyususn karya ilmiah

11.  Menggunakan Kutipan, Catatan Kaki, Daftar Pustaka

12.  Mengetahui Etika Karya Ilmiah

13.  Membuat Resensi dan Ringkasan

14.  Kesimpulan dan Refleksi Perkuliahan

15.  UAS

Metode Pembelajaran Student Centerd and Andragogi Aproach
Penilaian Penilaian diperoleh dari aspek-aspek:

1. Terstruktur (TST)

2. Mandiri (MDR)

3. Ujian Tengah Semester (UTS)

4. Ujian Akhir Semester (UAS)

Referensi 1.     Arifin, E. Zainal. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Persindo. 2009

2.     Gani, A. Ramlan. Disiplin Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK Press. 2011

3.     Alwi, Hasan. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2000

4.     Sabarti, Akhadiat dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga. 1988.

5.     Tarigan, Djago. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. : UT. 2000.

6.    Keraf, Gorys.1993. Komposisi. Jakarta : Nusa Indah

7.     Setiawan Djuharie, Otong. 2001. Panduan Membuat Karya Tulis.   Yrama Wydia.

8.     Surya. 2014. Membuat Karya Tulis Ilmiah. Mitra Surya

9.     Buku lain yang relevan.

 Peraturan Perkuliahan

  1. Mahasiswa hadir dalam perkuliahan tatap muka dan mengikuti perkuliahan secara aktif (partisipatif).
  2. Dosen dan Mahasiswa tiba di kelas tepat waktu sesuai dengan waktu yang ditetapkan/disepakati.
  3. Ada pemberitahuan jika tidak hadir dalam perkuliahan tatap muka.
  4. Selama perkuliahan berlangsung, HP dalam posisi off atau silent.
  5. Mengajukan izin (angkat tangan) jika ingin bertanya, menjawab, meninggalkan kelas atau keperluan lain.
  6. Saling menghargai dan tidak membuat kegaduhan/gangguan/kerusakan dalam kelas.
  7. Tidak boleh ada plagiat dan bentuk-bentuk pelanggaran norma lainnya.

Penilaian

  1. Kehadiran
  2. Performance individu
  3. Penilaian tugas dan presentasi kelompok
  4. Penilaian tugas individu
  5. Penilaian UTS
  6. Penilaian UAS

Evaluasi Yang Direncanakan

Tugas Individu:

  1. Membaca, menganalisis serta membuat resume topik-topik bahasan bahasa Indonesia pada setiap pertemuan, dikirim melalui email paling lambat sehari setelah perkuliahan berlangsung, pukul 18.00 (6.00 sore/pm).
  2. Membuat sebuah resensi sebuah buku yang disertai foto buku yang dipilih dan diserahkan empat hari setelah UTS.
  3. Menulis sebuah karya ilmiah berupa makalah dengan tema “ Perkembangan Ragam Bahasa Indonesia Saat Ini” dengan menggunakan kerangka karangan yang benar, pilihan kata yang baik/formal serta memperhatikan ejaan yang disempurnakan, menggunakan sistematika penulisan makalah dan diserahkan empat hari setalah UAS.

Tugas Kelompok:

  1. Membuat makalah. Isinya mencakup daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, uraian inti, kesimpulan, saran, dan daftar pustaka. Min 20 hal.
  2. Membuat bahan presentasi (power point)
  3. Makalah dan bahan presentasi dikirim melalui e-mail satu hari sebelum tampil, paling lambat pukul 06.00 pagi/am.
  4. Jika ada film/video pendukung dipersilahkan (optional).
  5. Gunakan buku-buku di bawah sebagai rujukan. Jika ada buku lain yang setara boleh digunakan sebagai rujukan tambahan.

Mengetahui,

Ketua Jurusan/Prodi

——————————

Bandung,   Oktober 2015

Dosen Pengampu Mata Kuliah

Ayu Puji Rahayu, M. Pd.

How Many Novels Can There Be?

Sublime Curiosity

I like reading. I like writing. When you’ve been writing for a while, you start to get really obsessed with word counts. Anybody you talk to about publishing something you’ve written will want to know your word count. For short fiction, you sometimes get paid by the word. And the number of words in the thing you’ve written determines whether it counts as a short story, a novella, a novel, as War and Peace, or as an encyclopedia.

Every year, I participate in National Novel-Writing Month. Unless, you know, I don’t feel like it. But I’ve participated more years than not, and I’ve produced a surprising number of novels. Every single one of them terrible, but that’s not NaNoWriMo’s fault. The goal in NaNoWriMo is to write a novel of at least 50,000 words in 30 days. And I got to thinking: how many novels that length are

Lihat pos aslinya 1.232 kata lagi

OPINION: Is there still life in Sepp Blatter after FIFA scandal escalates?

CitiBlog Milton Keynes

FOR many people, the arrest of high-ranking FIFA executives by a Swiss/US probe has signaled a horizon shift.

The last few years have seen football fans despair at FIFA corruption scandals, which have somehow managed to peak ever after the award of the 2022 tournament to Qatar. But with the organisation remaining as strong and, as John Oliver put it, “comically grotesque” as ever, it seemed like the gravy train was continuing to hurtle along at rapid speed. Sure, there were the odd scalps – including the noticeable one of former Vice President Jack Warner – but most of the time, it felt like FIFA had used them up and spat them out.

The fatalism had continued, with a number of opponents stepping down in the race to be FIFA President, leaving Jordan’s Prince Ali the only competitor to sport’s ultimate despot Sepp Blatter. This Friday (29/05) sees the election…

Lihat pos aslinya 826 kata lagi